Labels

Labels

Ads 300 x 250

Business Hours

About

Flickr Images

Monday, January 5, 2015

KONSEP PARAGRAF, Pengertian Paragraf, Ciri-ciri Paragraf





KONSEP PARAGRAF

Pendahuluan
Paragraf sudah tidak asing lagi bagi kita, bahkan telah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Paragraf dapat ditemukan di majalah, koran, buku-buku, dsb. Tetapi sebagian masyarakat tidak mengetahui konsep paragraph itu sendiri, baik dari pengertiannya maupun ide utama atau ide pokok. Bahasa Indonesia mengajarkan bagaimana kita dapat menyusun paragraph yang efektif dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
KONSEP PARAGRAF, Pengertian Paragraf, Ciri-ciri Paragraf

A.   Pengertian Paragraf
Paragraf disebut juga karangan mini, karena segala sesuatu yang  lazim terdapat di dalam karangan atau tulisan, sesuai prinsip dan tata kerja karang-mengarang dan tulis-menulis pula, terdapat pula dalam sebuah paragraf


Paragraf adalah satuan bahasa tulis yang terdiri dari beberapa kalimat. Jadi, kalimat – kalimat di dalam paragraf itu harus  disusun secara runtut dan sistematis, sehingga dapat dijelaskan hubungan antara kalimat yang satu dan kalimat lainnya dalam paragraf itu. Paragraf juga harus merupakan satu kesatuan yang padu dan utuh.

a. Ciri-ciri paragraf

  1. Paragraf  menggunakan pikiran utama (gagasan utama) yang dinyatakan dalam kalimat topik.
  2. Setiap paragraf menggunakan sebuah kalimat topik dan selebihnya merupakan kalimat pengembang yang berfungsi menjelaskan, menguraikan, atau menerangkan pikiran utama yang ada dalam kalimat topik.
  3. Paragraf menggunakan pikiran penjelas (gagasan penjelas) yang dinyatakan dalam kalimat penjelas.
b. Fungsi paragraf
Mengekspresikan gagasan tertulis dengan memberi bentuk suatu pikiran dan perasaan ke dalam serangkaian kalimat yang tersusun secara logis, dalam suatu kesatuan.
Menandai peralihan (pergantian) gagasan baru bagi karangan yang terdiri dari beberapa paragraf.
Memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis, dan memudahkan pemahaman bagi pembacanya.
Memudahkan pengembangan topik karangan kedalam satuan-satuan unit pikiran yang lebih kecil.





B.               Ide Utama dan Kalimat Utama Paragraf

Ide pokok atau ide utama sebuah paragraf menentukan wujud dari paragraf. Pikiran utama atau ide pokok sebuah paragraf dikemas dalam sebuah kalimat. Kalimat yang mengandung ide utama atau ide pokok itulah yang disebut dalam sebagai kalimat utama atau kalimat pokok. Contohnya ide pokok paragraf yang berbunyi,’lambatnya penelitian’, maka ide pokok paragraf tersebut dapat dikemas menjadi sebuah kalimat utama yang berbunyi, ‘ Lambatnya penelitian di Indonesia disebabkan oleh rendahnya insentif bagi para peneliti.’ Ide pokok dapat dikembangkan menjadi beberapa kalimat utama atau kalimat pokok.


Contoh:

1) Jalan Kasablanka selalu padat. 
2) Pada pukul 05.30, Jalan itu mulai dipadati oleh kandaraan sepeda motor, mobil pribadi. dan kendaraan umum. 
3) Kendaraan tersebut sebagian besar dari arah Pondok Kopi melintas ke arah Jalan Jenderal Sudirman.
4)Para pengendara diantaranya pedagang yang akan berjualan di PasarTanah Abang, pemakai jalan yang menghindari three in one, karyawan yang bekerja di Tangerang, Grogol, atau ke tempat Iain yang searah, dan siswa sekolah yang berupaya menghindar kemacetan. 
5) Pada pukul 07.00 s.d. 10.00, jalan itu dipadati oleh mahasiswa, dan karyawan yang akan bekeria. orang yang akan berjualan atau berbelanja, dan sebagian orang yang bepergian dengan kepentingan Iain-lain. 
6) Pada pukul 11 .00 s.d. pukul 15.00 jalan itu tidak begitu padat. Namun, pukul 15.00 s.d. 21.00 kendaraan ke arah Pondok Kopi kembali memadati jalan tersebut.

Penjelasan :
No 1 merupakan kalimat utama yang terletak diawal paragraf.

1.     Kalimat utama di awal paragraf
Kalimat utama di awal paragraf berupa perincian-perincian, contoh-contoh, keterangan-keterangan, deskripsi dan analisis. Alur pikiran yang diterapkan dalam paragraf dengan kalimat utama di awal paragraf adalah alur penalaran deduktif. Pemaparan paragraf dimulai dari hal-hal yang sifatnya umum, kemudian disertai dengan jabaran-jabaran yang sifatnya khusus.

2.     Kalimat utama di akhir paragraf
Kalimat utama yang terletak di akhir paragraf terlebih dahulu diawali dengan kalimat-kalimat penjelas. Kalimat-kalimat penjelas dapat berupa perincian-perincian, analisis dan deskripsi, contoh-contoh dan sejumlah pemaparan serta argumentasi. Kalimat utama yang berada di akhir paragraf itu fungsinya yang paling utama adalah untuk menyimpulkan. Kesimpulan tersebut lazimnya berupa sebuah generalisasi yang merupakan intisari dari paparan-paparan dan perincian-perincian yang sudah disampaikan sebelumya.

3.     Kalimat utama di akhir paragraf
Kalimat utama terletak di tengah paragraf. Paragraf jenis ini disebut juga paragraf ineratif. Di dalam paragraf model ineratif ini kalimat utama yang terdapat di tengah paragraf itu dapat diibaratkan sebagai puncak. Kalimat-kalimat yang berada di awal paragraf itu dapat dikatakan sebagai awal-awal menuj puncak, menuju klimaks paragraf, sedangkan alimat-kalimat yang berada setelah kalimat utama merupakan kalimat penjelas, derajatnya semakin rendah.

4.     Kalimat utama di awal dan akhir paragraf
Kalimat utama di awal dan di akhir paragraf. Kalimat utama di akhir paragraf merupakan pengulangan dari kalimat utama di awal paragraf. Dengan pengulangan maka kalimat utama akan semakin jelas. Paragraf yang kalimat utamanya  di awal dan di akhir paragraf disebut sebagai paragraf beralur penalaran abduktif.

5.     Kalimat utama tersirat
Adakalanya pula, sebuah paragraf dalam bahasa Indonesia tidak secara kasat mata menunjukkan kalimat utamanya. Rumusan kalimat utama terdapat di balik paragraf itu sendiri

C.     Kalimat penjelas
Tugasnya menjelaskan dan menjabarkan lebih lanjut ide pokok dan kalimat utama yang terdapat dalam paragraf tersebut. Panjang dan jumlah kalimat penjelas dalam sebuah paragraf tidak ada ukuran yang pasti.

1.     Kalimat penjelas mayor
Merupakan kalimat penjelas yang utama. Bersifat langsung, artinya kalimat penjelas yang  utama itu bertugas menjelaskan secara langsung ide pokok dan kalimat utama yang terdapat di dalam paragraf itu.

2.     Kalimat penjelas minor
Penjabaran dari kalimat penjelas mayor.

D. Kalimat Penegas
                Kehadiran kalimat penegas dialam sebuah paragrafbersifat tentatif, bersifat mana suka.

E. Unsur-Unsur Pengait Paragraf
Kalimat-kalimat di dalam sebuah paragraf juga masih harus didukung penataannya dengan peranti konjungsi dan kata ganti. Adapun yang dimaksud dengan konjungsi atau kata penghubung adalah kata yang bertugas menghubungkan atau menyambungkan ide atau pikiran yang ada dalam sebuah kalimat dengan ide atau pikiran ada kalimat yang lainnya.
1.     Pengait berupa Konjungsi Intrakalimat

Konjungsi intrakalimat pada kalimat-kalimat sebuah paragraf dapat menandai atau mengaitkan hubungan-hubungan berikut ini.
a.      Hubungan aditif (penjumlahan) : dan, bersama, serta.
b.      Hubungan adversatif (pertentangan) : tetapi, tapi, melainkan.
c.       Hubungan alternatif (pemilihan) : atau, ataukah.
d.      Hubungan sebab : sebab, karena, lantaran, gara-gara.
e.      Hubungan akibat : hasilnya, akibatnya, akibat.
f.        Hubungan tujuan : untuk, demi, agar, biar, supaya.
g.      Hubungan cara : asalkan, jika, kalau, jikalau.
h.      Hubungan waktu : sejak,sedari, ketika, sewaktu, waktu, saat, tatkala.
i.        Hubungan konsesif : sungguhpun, biarpun, meskipun, walaupun.
j.        Hubungan cara : tanpa, dengan.
k.       Hubungan kenyataan : bahwa.
l.        Hubungan alat : dengan, tidak dengan, memakai, mengunakan, mengenakan.
m.    Hubungan ekuatif (perbandinan positif, perbandingan menyamakan) : sebanyak, seluas, selebar.
n.      Hubungan komparatif (perbandingan negative, perbandingan membedakan) : lebih dari, kurang dari, lebih sedikit daripada.
o.      Hubungan hasil : sampai, sehingga, maka.
p.      Hubungan andaian : andaikata, seandainya, andaikan.
q.      Hubungan optatif ( harapan) : mudah-mudahan, moga-moga.

2.     Pengait berupa Konjungsi Antarkalimat

Di dalam konjungsi intra kalimat terdapat konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif. Lebih lanjut dapat ditegaskan bahwa konjunsi-konjungsi yang disebutkan di depan itu dapat menandai hubungan- hubungan makna berikut ini.





a.      Hubungan makna pertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya : biarpun begitu , biarpun demikian, sekalipun demikian.
b.      Hubungan makna kelanjutan dari kalimat yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya : kemudian , sesudah itu , setelah itu
c.       Hubungan makna bahwa terdapat peristiwa , hal , keadaan diluar dari yang dinyatakan sebelumnya : tambahan pula , lagipula, selain itu
d.      Hubungan makna kebalikan dari yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya : sebaliknya, berbeda dari itu , kebalikannya       
e.      Hubungan makna kenyataan yang sesungguhnya : sesungguhnya , bahwasannya, sebenarnya
f.        Hubungan makna yang menguatkan keadaan yang disampaikan sebelumnya : malah, malahan , bahkan
g.      Hubungan makna yang menyatakan keeksklusifan dan keinklusifan : kecuali itu
h.      Hubungan makna yang menyatakan konsekwensi : dengan demikian
i.        Hubungan makna yang menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya : sebelum itu

3.     Pengait berupa Konjungsi Korelatif

Konjungsi korelatif terdiri atas dua unsur yang dipakai berpasangan. Adapun contoh konjungsi korelatif tersebut adalah sebagai berikut  : antara….dan , dari….hingga , dari….sampai dengan , dari….sampai ke, dari….sampai, dari….ke, baik…. Maupun , tidak hanya….tetapi juga , bukan hanya….melainkan juga

4.     Pengait berupa Preposisi

Preposisi atau kata depan dapat dikatakan sebagai kelas kata dalam sebuah bahasa yang sifatnya tertutup. Dikatakan tertutup karena jumlahnya terbatas dan tidak berkembang seperti kelas-kelas kata yang lainnya. Berikut ini hubungan-hubungan makna yang diyatakan oleh preposisi atau kata depan.

a.       Hubungan makna keberadaan : di, pada  di dalam.
b.      Hubungan makna asal : dari, dari dalam, dari luar.
c.       Hubungan makna arah : ke, menuju , kedalam.
d.      Hubungan makna alat : dengan , tampa dengan.
e.      Hubungan makna kepesertaan : dengan, bersama.
f.        Hubungan makna cara : secara, dengan.
g.      Hubungan makna peruntukan : untuk, bagi, demi.
h.      Hubungan makna sebab atau alasan : karena, sebab.
i.        Hubugan makna perbandingan : daripada, ketimbang.
j.        Hubungan makna pelaku perbuatan atau agentif : oleh.
k.       Hubungan makna batas : hingga, sampai.

5.     Pengait dengan Teknik Pengacuan

Teknik-teknik pengacuan tertentu juga dapat digunakan sebagai peranti pengait.
Pengacuan – pengacuan termaksud dapat bersifat endoforis, tetapi juga dapat bersifat eksoforis. Berikut ini pengacuan – pengacuan yang bersifat endoforis :

a.      Hubungan pengacuan dengan kata ‘itu’.
b.      Hubungan pengacuan dengan kata ‘begitu’.
c.       Hubungan pengacuan dengan kata ‘ begitu itu’.
d.      Hubungan pengacuan dengan kata ‘demikian itu’.
e.      Hubungan pengacuan dengan kata ‘tersebut’.
f.        Hubungan pengacuan dengan kata ‘tersebut itu’.
g.      Hubungan pengacuan dengan pronomina ‘-nya’.





6.     Pengait yang Memerantikan Kalimat
Unsur-unsur pengait di dalam paragraf tidak hanya berupa kata dan frasa tetapi juga berupa kalimat. Kalimat demikian itu lazimnya terdapat diawal paragraf.

F. Prinsip Kepaduan Bentuk dan Makna Paragraf

Paragraf yan baik adalah paragraf yang semua unsur kebahasaannya menjamin kepaduan bentuk bagi keberadaan paragraf itu. Kepaduan makna dalam sebuah paragraf ditunjukan dengan sebuah kehadiran ide atau pikiran yang satu dan tidak terpecah-pecah di dalam paragraf. Ide pokok dalam sebuah paragraf itu tidak boleh lebih dari satu. Jika ide pokoknya hanya satu maka harus dijabarkan secara terperinci hingga menjadi benar-benar tuntas dalam satu paragraf.

1.     Prinsip Kesatuan Pikiran
Di dalam sebuah paragraf harus terdapat prisip kesatuan ide atau pikiran. Pikiran atau ide yang hanya ada satu tersebut selanjutnya harus dijabarkan secara terperinci lewat kalimat-kalimat penjelas didalam paragraph itu. Dan kalimat penjelas yang sifatnya minor tersebut masih dapat dijabarkan lagi menjdi kalimat penjelas yang sifatnya sub-minor. Prinsip kepaduan kesatuan ide atau kesatuan pikiran ini menjadi sangat penting untuk menjadikan konstruksi paragraf yang benar-benar efektif dan padu makna.

Contoh paragraf dengan kesatuan pikiran:
   1) Kebebasan berekspresi berdampak pada pengembangan
kreativitas baru. 2) Dengan kebebasan ini, para guru dapat dengan Ieluasa
mengajar siswanya sesuai dengan basis kompetensi siswa dan
lingkungannya. 3) Kondisi Kebebasan tersebut menjadikan pembelajaran
berlangsung secara alami. penuh gairah, dan siswa termotivasi untuk
berkembang. 4) Siswa belajar dalam suasana gembira, aktif, kreatif, dan
produktif. 5) Dampak kebebasan ini, setiap saat siswa dapat melakukan
berbagai eksperimen dengan menyinergikan bahan ajar di sekolah dan
lingkungannya. 6) Kreativitasnya menjadi tidak terbendung.

Penjelasan :
 Seluruh kalimat membahas pikiran yang sama yaitu kebebasan berekspresi (kalimat 1). Kalimat
2) membahas dampak pikiran ,pada kalimat 1 )siswa dapat belajar sesuai dengan
basis kompetensinya. Kalimat 3) siswa belajar penuh gairah sebagai dampak
pikiran kalimat 2). Kalimat 4) berisi siswa menjadi kreatif sebagai dampak pikiran
kalimat 3). Kalimat 5) siswa belajar secara sinergis teori dan praktik sebagai
dampak pikiran kalimat 4). Kalimat 6) kreativitas siswa tidak terbendung sebagai
dampak pikiran kalimat 5).

2. Prinsip Ketuntasan Pemaparan

Yang dimaksud dalam tuntas pemaparan adalah bahwa di belakang ide atau pikiran pokok yang sedang dijabarkan tersebut, tidak ada lagi sisa-sisa atau serpihan-serpihan ide atau pikiran yang belum dijabarkan. Paragraf yang baik adalah paragraf yang benar-benar tuntas dari dimensi penjabaran atau pemaparan ide pokoknya.



Contoh:

Mahasiswa di kelas itu terdiri dari 15 orang perempuan dan 13 orang
Iaki-Iaki. Prestasi perempuan mencapai IPK 4 sebanyak 3 orang,
IPK 3 sebanyak 10 orang. dan IPK 2,7 sebanyak dua orang.
Sedangkan prestasi Iaki-Iaki mencapai IPK 4 sebanyak 2 orang, IPK
3 sebanyak 10 orang. Mereka yang belum mencapai IPK 4 berupaya
meningkatkannya dengan menulis skripsi sesempurna mungkin
sehingga dapat mengangkat IPK lebih tinggi. Sedangkan mereka
yang sudah mencapai IPK 4 juga berupaya mendapatkan nilai skripsi
A dengan harapan dapat mempertahankan IPK akhir tetap 4.

Penjelasan :

Klasifikasi objek pada contoh di atas menunjukkan ketuntasan. (1) Seluruh
objek (mahasiswa) diklasifikasi. Tidak seorangpun dalam kelas itu yang tidak
masuk ke dalam kelompok. (2) Klasifikasi pembahasan gagasan juga tuntas.
Pengelompokan IPK yang dicapai oleh mahasiswa (IPK 4, 3. dan 2,7) di kelas
itu dibahas seluruhnya, tidak ada gagasan dan fakta yang tertinggal.

3.                 Prinsip Keruntutan
Adapun yang dimaksud adalah paragraph disusun secara urut, bahwa jabaran ide dan pikiran pokok dalam sebuah paragraph itu tidak melompat-lompat, jadi harus benar-benar urut. Maka pemaparan harus setia dengan alur pikir khusus-umum, maka pejabaran harus dimulai dengan hal yang sangat terperici, menuju dimensi yang sedikit lebih besar, dan berhenti pada dimensi yang paling besar.

G. Jenis dan Cara Pengembngan Paragraf
1. Jenis Paragraf
a. Paragraf Pembuka
Tugas pokok paragraf pembuka adalah untuk membuka dan mengantarkan pembaca agar dapat memasuki paragraf-paragraf pengembang yang akan dihadirkan kemudian. Pembuka paragraf harus dibuat menarik atau memikat pembaca agar mereka mau meneruskan masuk ke dalam paragraf selanjutnya.

b. Paragraf pengembang
Paragraf pengembang atau paragraf isi sesungguhnya berisi inti atau esensi pokok beserta seluruh jabaran karya tulis itu sendiri. Ukuran dari paragraf pengembang tidak pernah ditentukan  dalam sebuah karya ilmiah, jadi ukuran yang di lihatkan adalah ketuntasan dari pemaparan atau penguraian tema karangan dan kalimat tesis yang ada dalam karangan atau tulisan itu.

c. Paragraf penutup
Paragraf penutup bertugas mengakhiri sebuh tulisan atau karangan, dan yang pasti semua karangan diakhiri dengan paragraf penutup untuk menjamin bahwa permasalahan yang di pampangkan pada awal paragraf karangan itu terjawab secara lebih jelas tegas dan tuntas.
Isi paragraf penutup itu dapat berupa simpulan atau penegasan kembali pemaparan yang telah disajikan sebelumnya, adap ula sebuah paragraf penutup berisi rangkuman dari perincian-perincian jabaran yang telah dialakukan sebelumnya di dalam isi karangan dan tulisan.

2.     Pengembangan Paragraf
Paragraf harus diuraikan dan dikembangkan oleh para penulis atau pengarang dengan variatif.

a.      Pengembangan Ilmiah
Pengembangan paragraf yang berciri ilmiah didasarkan pada fakta spasial dan kronologi, pengembangan itu harus setia pada urutan tempat dan waktu, yakni dari titik tertentu menuju titik tertentu pula di dalam sebuah deskripsi.
b.      Pengebangan Deduksi-Induksi
Pengembangan paragraf dengan model deduksi dimulai dari sesuatu gagasan yang sifatnya umum dan diikuti dengan perincian-perincian yang sifatnya khusus dan terperinci. Pengembangan paragraf secara induksi adalah pengembangan yang dimulai dari hal-hal yang sifatnya khusus, mendetail, terperinci, menuju ke hal-hal yang sifatnya umum.
c.       Pengembangan Anologi
Pengembangan paragraf secara analogis lazimnya dimulai dari sesuatu yang sifatnya umum, sesuatu yang banyak dikenal oleh publik, sesuatu yang banyak dipahami kebenarannya oleh orang-orang dengan sesuatu yang masih baru, sesuatu yang belum banyak diketahui publik.
d.      Pengembangan Klasifikasi




Pengembangan klasifikasi juga akan dapat memudahkan pembaca dalam memahami isinya, seperti kelas-kelasnya jelas, tipe-tipenya juga sangat jelas. Pengkelasan atau penipean karakternya, kesamaan bentuknya, kesamaan ciri dan sifatnya akan memudahkan untuk dapat dipahami oleh pembaca jika di klasifikasikan terlebih dahulu.
e.      Pengembangan Komparatif dan Kontrastif
Komparatif adalah sebuah paragraf dalam karangan ilmiah yang dapat dikembangkan dengan cara dibandingkan dimensi-diemnsi kesamaannya, bisa dari ciri-cirinya, karakternya, tujuannya, bentuknya, dengan cara mengamati kesamaan dimensi-dimensinya. Kontrastif adalah perbandingan yang dilakukan dengan cara mencermati dimensi-dimensi perbedaannya dari ciri-cirinya, karakternya, tujuannya dan bentuknya.
f.        Pengembangan Sebab-Akibat
Pengembangan paragraf dengan cara demikian ini juga lazim disebut sebagai pengembangan yang sifatnya rasional. Karena lazimnya orang berpikir berawal dari sebab-sebab dan bermuara pada akibat-akibat.
g.      Pengembanan Klimaks-Antiklimaks
Paragraf klimaks ini dikembangkan pula dari puncak-puncak peristiwa yang sifatnya kecil-kecildan beranjak terus maju ke dalam puncak peristiwa yang paling besar atau optimal, kemudian berhenti di puncak yang paling optimal tersebut. Paragraf Antiklimaks ini paragraf yang pengembangannya masih diteruskan ke dalam tahapan penyelesaian hingga tidak menemukan titik akhir, dan ini tidak sangat lazim ditemukan di dalam karya ilmiah. Kebanyakan narasi dan cerita dongeng pengantar tidur menerapkan model pengembangan paragraf yang demikin ini.

H. Glosarium




1)      Paragraf                               : sebutan lain untuk alinea.
2)      Kalimat pokok                   : kalimat yang berisi ide pokok; sebutan                lain untuk kalimat utama.
3)      Kalimat penjelas               : kalimat yang bertugas untuk menjelaskan kalimat utama; sering disebut kalimat pengembang.
4)      Kalimat penjelas mayor : kalimat yang secara langsung menjelaskan kalimat utama atau kalimat                                                                 pokok
5)      Kalimat penjelas minor : kalimat yang secara langsung menjelaskan kalimat penjelas utama dan     secara tidak langsung menjelaskan kalimat pokok atau kalimat utama.
6)      Kalimat penegas               : kalimat yang bertugas memberi penegasan pada ide pokok.
7)      Deduktif                              : alur berpikir dan alur dalam menulis paragraf yang berangkat dari hal           yang umum ke hal yang khusus.
8)      Induktif                                : alur berpikir dan alur dalam menulis paragraf yang berangkat dari hal yang khusus ke umum.
9)      Abduktif                              : gabungan antara deduktif dan induktif.
10)   Pengait paragraph           : menunjuk pada bentuk-bentuk kebahasaan tertentu yang berfungsi mengaitkan sub-sub ide dalam sebuah paragraf.
11)   Kohesi                                  : kepaduan makna.
12)   Koherensi                           : kepaduan bentuk.

Simpulan
              Konsep paragraf sangat penting bagi penulis maupun penyair dalam pembuatan paragraph yang efektif dan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Daftar Pustaka
Rahardi , Kunjana. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010.
Hs, Widjono, Bahasa Indonesia. Jakarta : Penerbit Grasindo.

No comments:
Write komentar

Tertarik dengan konten ALCHOSILBER?
Pantau terus setiap update !